Tampilkan postingan dengan label Ali - ‘Imraan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ali - ‘Imraan. Tampilkan semua postingan
Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 199-200

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 199-200

Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat
tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 199-200“Dan Sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Amat cepat perhitungan-Nya. (Ali ‘Imraan: 199) Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imraan: 200)
Allah swt. memberitahukan mengenai segolongan orang-orang dari Ahlil Kitab yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya, serta beriman kepada apa yang dibawa oleh Muhammad saw., disamping mereka juga beriman kepada kitab-kitab sebelumnya, dan mereka khusyuk kepada Allah, artinya taat dan tunduk kepada-Nya sambil merendahkan diri di hadapan-Nya dengan tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, yakni mereka tidak menyembunyikan sedikitpun mengenai kabar gembira akan kedatangan Muhammad saw. Mereka menceritakan mengenai sifat, karakter, tempat diutusnya beliau, serta sifat umatnya. Mereka itu adalah orang-orang pilihan dari ahlil kitab, baik orang-orang yang berasal dari Yahudi maupun Nasrani.
Dalam surah al-Qashash Allah berfirman yang artinya:
“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka al-Kitab sebelum al-Qur’an, mereka beriman (pula) dengan al-Qur’an itu. Dan apabila dibacakan (al-Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata, ‘Kami beriman kepadanya, sesungguhnya al-Quran itu adalah suatu kebenaran dari Rabb kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya).’ Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka.” (QS. Al-Qashash: 52-54)
Dan sifat-sifat dalam ayat tersebut terdapat pada diri orang-orang Yahudi tetapi jumlahnya sangat sedikit sekali, seperti ‘Abdullah bin Salam dan orang-orang semisalnya yang beriman dari kalangan pendeta Yahudi. Itu pun tidak sampai sepuluh orang. Sedangkan di kalangan orang-orang Nasrani terdapat banyak orang yang mendapat petunjuk dan mengikuti kebenaran.
Sebagaimana yang difirmankan-Nya yang artinya: “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’ Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: ‘Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Qur’an dan kenabian Muhammad saw.). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Rabb kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih.’ Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).” (QS. Al-Maa-idah: 82-85)
Karena itu di sini Allah berfirman, ulaa-ika laHum ajruHum ‘inda rabbiHim (“Mereka memperoleh pahala di sisi Rabb-nya.”)
Dalam hadits shahih telah ditegaskan bahwa ketika Ja’far bin Abi Thalib membaca surat, “Kaaf Haa Yaa ‘Aiin Shaad” (surat Maryam) dihadapan Najasyi, Raja Habasyah (Ethiopia), yang di sisi raja itu terdapat para uskup dan pendeta Nasrani, maka ia (Najasyi) pun menangis dan mereka pun menangis bersamanya sehingga air mata mereka membasahi janggut mereka.
Dan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim ditegaskan bahwa ketika raja Najasyi meninggal dunia, Rasulullah memberitahu para Sahabatnya, “Sesungguhnya saudara kalian di Habasyah telah meninggal dunia, maka laksanakanlah shalat (ghaib) untuknya.” Kemudian beliau pergi ke tanah lapang dan mengatur shaf para Sahabat-nya, kemudian mengerjakan shalat.
Dalam kitab al-Mustadrak, al-Hafizh Abu ‘Abdullah al-Hakim meriwayatkan dari `Amir bin ‘Abdullah bin az-Zubair dari ayahnya, ia berkata: Bahwa Raja Najasyi mendapatkan ancaman dari musuh dalam negerinya. Lalu orang-orang Muhajirin mendatanginya dan berkata, “Sesungguhnya kami senang jika engkau berangkat menghadapi mereka sehingga kami dapat berperang bersamamu dan engkau akan tahu keberanian kami dan kami akan memberikan balasan kepadamu atas apa yang telah engkau lakukan kepada kami.” Maka ia pun berkata, “Penyakit yang diakibatkan pertolongan Allah swt. adalah lebih baik daripada obat yang diakibatkan pertolonan manusia.”
Pada peristiwa itu turunlah ayat, wa inna min aHlil kitaabi lamay yu’minu billaaHi wa maa unzila ilaikum wa maa unzila ilaiHim khaasyi-‘iina lillaaHi (“Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka, sedang mereka berendah hati kepada Allah.”) Kemudian al-Hakim berkata, bahwa hadits ini sanadnya shahih, sedangkan al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.
Mengenai firman-Nya, wa inna min aHlil kitaabi la may yu’minu billaaHi (“Dan sesungguhnya di antara Ahlil Kitab ada orang yang beriman kepada Allah.”) Ibnu Abi Najih mengatakan dari Mujahid, yakni, Ahli Kitab yang Muslim.
Sedang ‘Ubbad bin Manshur berkata, aku pernah bertanya kepada al-Hasan al-Bashri mengenai firman Allah: wa inna min aHlil kitaabi la may yu’minu billaaHi (“Dan sesungguhnya di antara Ahlil Kitab ada orang yang beriman kepada Allah.”) la menjawab, mereka itu adalah Ahlul Kitab sebelum diutusnya Muhammad lalu mereka mengikuti beliau serta mengenal (masuk) Islam, maka Allah memberikan dua pahala kepada mereka, yaitu pahala untuk keimanan mereka sebelum (diutusnya) Muhammad dan pahala mereka mengikuti ajarannya. (Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim).
Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim telah ditegaskan sebuah hadits dari Abu Musa, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Ada tiga golongan yang pahala mereka diberikan dua kali.” Kemudian beliau menyebutkan, di antaranya adalah seorang dari ahlil kitab yang beriman kepada Nabinya dan kepada diriku [Muhammad saw.]
Dan firman-Nya: laa yasy-taruuna bi-aayaatillaaHi tsamanan qaliilan (“Mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.”) artinya mereka tidak menyembunyikan ilmu yang mereka miliki sebagaimana telah dilakukan oleh segolongan dari mereka, bahkan sebaliknya, mereka menyebar luaskannya dengan cuma-Cuma.
Oleh karena itu Allah berfirman: ulaa-ika laHum ajruHum ‘inda rabbiHim innallaaHa sarii-‘ul hisaab (“Mereka memperoleh pahala di sisi Rabbnya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya.”) Mujahid berkata, yakni cepat perhitungannya. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dan lainnya.
Firman-Nya: yaa ayyuHal ladziina aamanushbiruu wa shaabiruu wa raabithuu (“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu serta tetaplah bersiap siaga [di perbatasan negerimu].”) Hasan al-Bashri berkata: mereka diperintahkan untuk senantiasa bersabar dalam menjalankan agamanya yang diridhai oleh Allah, yaitu agama Islam. Sehingga mereka tidak akan meninggalkannya pada saat sengsara maupun pada saat bahagia, pada saat kesusahan maupun pada saat penuh kemudahan, hingga akhirnya mereka benar-benar mati dalam keadaan muslim. Selain itu, mereka juga diperintahkan untuk memperkuat kesabaran mereka terhadap musuh-musuh yang menyembunyikan agama mereka. Hal yang lama juga dikatakan oleh beberapa ulama Salaf.
Sedangkan murabathah berarti teguh dan senantiasa berada di tempat ibadah. Ada juga yang mengartikannya dengan tindakan menunggu shalat setelah shalat. Hal itu dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Sahl bin Hunaif, Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi dan yang lainnya.
Di sini Ibnu Abi Hatim meriwayatkan sebuah hadits yang juga diriwayatkan Imam Muslim dan an-Nasa’i dari Malik bin Anas dari Abu Hurairah, dari Nabi saw., beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan sesuatu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa dan meninggikan derajat?” Para Sahabat menjawab, “Mau, ya Rasulullah.” Beliau pun bersabda, “Yaitu, menyempurnakan wudhu pada saat-saat sulit (seperti pada saat udara sangat dingin), banyak melangkahkan kaki ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Demikian itu adalah ribath. Demikian itu adalah ribath (menahan diri atas ketaatan yang disyari’atkan). Demikian itu adalah ribath.” Wallahu a’lam.
Ada yang mengatakan, yang dimaksud dengan murabathah di sini adalah keteguhan berperang melawan musuh, mempertahankan kemuliaan Islam, serta menjaganya agar musuh tidak masuk ke daerah Islam. Telah banyak hadits yang menganjurkan hal tersebut disertai dengan penyebutan pahala yang besar bagi yang melakukannya.
Imam al-Bukhari pernah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Sahl binSa’ad as-Sa’idi, bahwa Rasulullah, bersabda: “Ribath (bersikap siaga di perbatasan) selama satu hari di jalan Allah, lebih baik dari pada dunia seisinya.” (HR. Al-Bukhari)
Sedangkan Imam Muslim meriwayatkan dari Salman al-Farisi, dari Rasulullah, beliau bersabda: “Ribath satu hari satu malam lebih baik daripada puasa satu bulan penuh dan qiyamul lail pada bulan itu. Jika meninggal dunia, maka amal yang dilakukannya masih terus berlaku, rizkinya pun terus mengalir, dan dia aman dari berbagai fitnah.” (HR. Muslim)
Imam Ahmad meriwayatkan dari Haiwah bin Syuraih, Abu Hani’ al-Khaulani memberitakan kepadaku, bahwa ‘Amr bin Malik al-Haini pernah memberitahukan kepadanya bahwa ia telah mendengar Fadhalah bin ‘Ubaid berkata, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Setiap orang yang meninggal itu berakhir amalannya kecuali yang meninggal dalam keadaan ribath di jalan Allah maka amalnya itu senantiasa berkembang sampai hari Kiamat dan dia diamankan dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad)
Demikian juga yang diriwayatkan Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan Imam at-Tirmidzi berkata, bahwa hadits ini hasan shahih. Dan Ibnu Hibban mengeluarkannya dalam kitab Shahihnya.
Sedangkan Abu Dawud berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Taubah, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah Ibnu Salam, telah menceritakan kepadaku as-Saluli, bahwasanya disampaikan kepadanya sebua hadits oleh Sahl bin al-Hanzhalah, bahwa mereka pernah berjalan bersama Rasulullah pada waktu perang Hunain, sampai pada waktu ‘Isya’. Kemudian aku mengerjakan shalat bersama Rasulullah, lalu datanglah seseorang penunggang kuda dan mengatakan: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku bertolak dari hadapan kalian, sehingga aku melihat gunung ini dan itu, tiba-tiba aku melihat kabilah Hawazin, semuanya tanpa ada yang ketinggalan sedang berkemah dengan unta-untanya, berbagai barang berharga, serta domba-domba mereka.”
Maka Rasulullah pun tersenyum seraya bersabda: “Itu semua adalah ghanimah kaum muslimin besok insya Allah (jika Allah menghendaki).’ Lebih lanjut beliau bertanya: “Siapa yang akan menjaga kami malam ini?” Anas bin Abi Martsad berkata: “Aku, ya Rasulullah.” “Kalau begitu, tunggang-lah,” sahut Rasulullah. Maka Anas pun menunggangi kuda miliknya. Setelah itu ia mendatangi Rasulullah, maka beliau bersabda kepadanya: “Telusuri jalan pengunungan ini hingga sampai ke puncaknya dan jangan engkau serang orang yang menjumpaimu malam ini.” Ketika pagi hari tiba, beliau berangkat ke tempat shalat dan mengerjakan shalat dua rakaat dan setelah itu beliau bertanya: “Apakah kalian telah memperoleh berita mengenai utusan berkuda kalian?” Seseorang menjawab: “Kami belum mengetahuinya, ya Rasulullah.”
Kemudian beliau berangkat shalat, dan ketika sedang mengerjakan shalat, beliau menoleh ke arah jalan pegunungan tersebut, hingga ketika shalatnya telah usai beliau bersabda; “Berbahagialah, sesungguhnya utusan berkuda kalian telah datang kepada kalian.” Maka kami pun melihatnya melalui sela-sela pepohonan, ternyata memang benar ia telah datang. Lalu orang itupun berhenti di hadapan Nabi seraya berkata: “Sesungguhnya aku telah ber-tolak hingga aku sampai di puncak gunung itu seperti yang telah engkau perintahkan. Dan ketika pagi harinya, aku menaiki kedua lereng tersebut, lalu aku mengamati (mengawasi) ternyata aku tidak melihat seorang pun. Rasulullah saw. bertanya kepadanya: “Apakah engkau pada tadi malam turun?” Ia menjawab: “Tidak, kecuali untuk shalat atau buang hajat.” Maka Rasulullah bersabda: “Engkau telah mendapatkan pahalanya, maka sesudah itu tidak akan membahayakanmu bila kamu tidak beramal lagi.” (HR. An-Nasa’i)
Dalam kitab Shahih al-Bukhari telah diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba pakaian. Hingga jika diberi,ia senang dan jika tidak diberi, ia marah. Celaka dan sengsaralah. Dan jika tertusuk duri, maka ia tidak dapat mencabutnya. Beruntunglah bagi seorang hamba yang mempergunakan kudanya untuk kepentingan di jalan Allah, rambutnya kusut masai, kedua kakinya berlumuran debu. Jika ia diperintahkan untuk berjaga, maka ia berjaga dan bila ia diperintahkan untuk berada di akhir pasukan maka ia siap berada di garis belakang. Jika ia meminta izin (untuk menemui penguasa), tidak diberikan izin kepadanya, dan jika meminta
syafa’at (untuk menjadi perantara), tidak diberikan syafa’at untuknya (tidak diterima perantaraannya).” (Karena tawadhu’ dan jauh dari sikap ingin terkenal).
Ini hadits terakhir yang kami kemukakan berkaitan dengan pembahasan ini. Segala puji bagi Allah atas berbagai nikmat yang datang dari tahun ke tahun, dari hari ke hari.
Ibnu Jarir berkata: Abu ‘Ubaidah pernah menulis surat kepada ‘Umar bin al-Khaththab yang memberitahukan kepadanya beberapa golongan dari bangsa Romawi dan apa yang ditakutkan dari mereka. Maka ‘Umar pun mengirimkan balasan surat itu kepadanya. (Dituliskan), Amma Ba’du. Meskipun apa saja yang menimpa seorang mukmin dari satu kesulitan (penderitaan), maka pasti setelah itu Allah menjadikan baginya kelapangan, karena sesungguhnya satu kesulitan itu tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Sesunguhnya Allah swt. berfirman, yaa ayyuHal ladziina aamanushbiruu wa shaabiruu wa raabithuu (“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu serta tetaplah bersiap siaga [di perbatasan negerimu].”)
Demikianlah yang diriwayatkan al Hafizh Ibnu ‘Asakir dalam biografi Abdullah Ibnu al-Mubarak melalui jalan Muhammad bin Ibrahim bin Abi Sakinah, ia menceritakan, aku pernah mendiktekan kepada ‘Abdullah bin al-Mubarak bait-bait berikut ini di Tharsus dan aku berpamitan kepadanya untuk keluar. Dan kau bacakan bait-bait itu kepada al-Fudhail bin ‘Iyadh padatahun 170 H, dalam riwayat lain disebutkan pada tahun 177 H:
Wahai yang beribadah di Haramain, andai saja engkau melihat kami,
niscaya engkau akan mengetahui bahwa engkau bermain-main dalam beribadah.
Jika orang membasahi pipinya dengan air matanya, maka kami membasahi wajah kami dengan darah kami.
Atau jika orang melelahkan kudanya dalam kebathilan, maka kuda-kuda kami merasa kelelahan pada pagi hari esok.
Bau wangi menyerbak untuk kalian, sedang bau wangi kami adalah tanah pada kuku kaki kuda dan debu yang baik. Telah datang kepada kami ungkapan Nabi kami, ungkapan yang benar dan tidak berbohong.
Tidak sama antara debu kuda Allah di hidung seseorang dan asap api yang berkobar.
Inilah kitab Allah berbicara di tengah-tengah kita, dan saksi terhadap mayat itu tidak berbohong.
Kemudian ia melanjutkan ceritanya, lalu aku menyerahkan tulisan itu kepada al-Fudhail bin ‘Iyadh di Masjidilharam. Ketika ia membacanya, maka kedua matanya pun meneteskan air mata, dan ia pun berkata, “Abu ‘Abdir-Rahman itu memang benar,” ia telah menasihatiku.
Dan firman-Nya, wat taqullaaHa (“Dan bertakwalah kepada Allah.”) Yakni dalam segala urusan dan keadaan kalian. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. kepada Mu’adz ketika beliau mengutusnya ke Yaman: “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan perbuatan buruk itu. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”
Hadits tersebut diriwayatkan Imam at-Tirmidzi. la berkata bahwa hadits ini hasan.
La-‘allakum tuflihuun (“Supaya kamu beruntung.”) Yaitu, beruntung di dunia dan di akhirat.
Demikianlah penafsiran surat Ali-‘Imran. Dan hanya milik Allahlah segala puji dan anugerah. Kami memohon kepada-Nya, semoga kita semua meninggal dunia dalam keadaan berpegang kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.
Aamiin.
Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 196-198

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 196-198

Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat
tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 196-198“Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. (QS. Ali ‘Imraan: 196). Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. (QS. Ali ‘Imraan: 197). Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Rabb-nya, bagi mereka Surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.” (QS. Ali ‘Imraan: 198)
Allah berfirman, janganlah kalian melihat kepada orang-orang kafir yang berlebih-lebihan dan bergelimang didalam kenikmatan, kesenangan dan kegembiraan, karena semuanya itu akan binasa dengan segera dan mereka akan tergadai dengan amal keburukan mereka. Sebenarnya Kami memperpanjang sedikit waktu mereka dalam menikmati itu hanyalah sebagai tipuan dari semua yang ada pada mereka, mataa-‘un qaliilun tsumma ma’waaHum jaHannamu wa bi’sal miHaad (“Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam, dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.”)
Firman Allah tersebut sama seperti firman-Nya yang artinya, “Katakanlah: Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung. (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia. Kemudian kepada Kamilah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka.” (QS. Yunus: 69-70)
Demikianlah, ketika Allah swt. menceritakan keadaan orang-orang kafir di dunia, di mana Allah menyebutkan bahwa tempat kembali mereka adalah Neraka, maka setelah itu Allah berfirman yang artinya: “Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Rabb-nya, bagi mereka Surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.”
Ibnu Abi Hatim mengatakan dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Allah swt. menyebut mereka sebagai orang-orang baik. Lantaran mereka berbuat baik kepada orang tua dan anak-anak mereka, sebagaimana orang tua anda mempunyai hak atas diri anda, seperti halnya anak-anak anda mempunyai hak atas diri anda.
Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 195

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 195

Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat
tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 195“Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam Surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik “. (QS. Ali ‘Imraan: 195)
Allah berfirman, fastajaaba laHum rabbuHum (“Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya.”) Maksudnya, maka Rabb mereka mengabulkan mereka. Sebagaimana yang diungkapkan seorang penyair:
Seorang hamba berseru: “Wahai Rabb yang mendengar seruan.”
Maka pada saat itu tidak ada seorang pun yang dapat menjawabnya.
Sa’id bin Manshur berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari ‘Amr bin Dinar, dari Salamah, seorang dari keluarga Ummu Salamah, ia mengatakan, Ummu Salamah pernah berkata: “Ya Rasulullah, kami tidak mendengar Allah menyebut kaum wanita sedikit pun dalam hijrah.” Maka Allah menurunkan ayat yang artiny: “Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantaramu, baik laki-laki maupun perempuan, karena sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilahakan Aku masukkan mereka ke dalam Surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”
Kaum Anshar berkata: “Ummu Salamah adalah wanita yang pertama kali datang kepada kami.”
Hadits itu juga diriwayatkan al-Hakim dari Sufyan bin ‘Uyainah. Ia (al-Hakim) mengatakan, hadits ini shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari, tetapi al-Bukhari dan Muslim sendiri tidak mengeluarkannya.
Makna ayat di atas adalah bahwa orang-orang yang beriman yang berakal memohon apa yang dikemukakan di depan, maka permohonan itu dikabulkan oleh Rabb mereka. Hal itu disambung dengan menggunakan (fa’) fa’ ta’qib (menggabungkan dengan yang sebelumnya). Sebagaimana yang difirmankan-Nya yang artinya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. “(QS. Al-Baqarah: 186)
Firman-Nya, innii laa ‘u-dlii-‘u ‘amala ‘aamilim minkum min dzakarin au untsaa (“Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan.”) Penggalan ayat ini merupakan penafsiran dari pengabulan do’a itu. Dengan kata lain, Allah memberitahukan kepada mereka bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan amal seorang dari kalian, bahkan Allah akan memberikan balasan kepada setiap orang dari kalian dengan sempurna sesuai dengan amal perbuatannya, baik laki-laki maupun perempuan.
Firman-Nya: ba’dlukum mim ba’dlin (“[Karena] sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.”) Artinya, di hadapan-Ku, perolehan pahala kalian adalah sama. Fal ladziina Haajaruu (“Maka orang-orang yang berhijrah.”) Yakni, meninggalkan kampung yang penuh kesyirikan mendatangi kampung yang penuh keimanan, di mana mereka rela meninggalkan orang-orang yang dicintainya, saudara, paman, dan tetangganya. Wa ukhrijuu min diyaariHim (“Yang diusir dari kampung halamannya.”) Yakni mereka dipersempit oleh orang-orang musyrik dengan cara disakiti sehingga mendorong mereka pergi dari tengah-tengah mereka.
Oleh karena itu Allah berfirman: wa uudzuu fii sabiilii (“Yang disakiti pada jalan-Ku.”) Kesalahan mereka di mata orang-orang musyrik itu adalah karena mereka hanya beriman kepada Allah semata. Sebagaimana firman-Nya: wa maa naqamuu minHum illaa ay yu’minuu billaaHil ‘aziizil hamiid (“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Mahaperkasa lagi Mahaterpuji.”) (QS. Al-Buruuj: 8)
Dan firman-Nya, wa qaataluu wa qutiluu (“Yang berperang dan yang dibunuh.”) Artinya, inilah maqam tertinggi agar manusia berjihad di jalan Allah, menjadikan tubuhnya terluka dan wajahnya berlumuran darah dan debu.
Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim ditegaskan bahwasanya ada seseorang yang berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menurut pendapatmu jika aku berperang di jalan Allah dengan penuh kesabaran, mencari keridhaan-Nya dan pantang menyerah, apakah Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahanku?” “Ya,” jawab beliau. Lalu beliau bertanya: “Bagaimana pertanyaanmu tadi?” Maka orang itu pun mengulangi pertanyaan itu. Dan beliau pun menjawab, “Ya, kecuali urusan utang, demikianlah apa yang baru saja dikatakan oleh Jibril kepadaku tadi.”
Oleh karena itu, Allah berfirman, la ukaffiranna ‘anHum sayyi-aatiHim wa la-ud-khilannaHum jannaatin tajrii min tahtiHal anHaaru (“Pastilah akan Ku hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam Surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.”) Yakni, di tengah-tengah Surga itu mengalir berbagai macam minuman, berupa susu, madu, khamr, air tawar dan lain-lainnya yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga serta tidak pernah terbetik dalam hati manusia.
Dan firman-Nya, tsawaabam min ‘indillaaHi (“Sebagai pahala di sisi Allah.”) Pahala itu didasarkan dan dinisbatkan kepada-Nya agar menjadi petunjuk bahwa Allah itu Mahaagung, karena Rabb yang Mahaagung lagi Mahamulia itu tidaklah memberi kecuali dalam jumlah yang banyak.
Sedangkan firman-Nya, wallaaHu ‘indaHuu husnuts tsawaab (“Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”) Artinya, Allah mempunyai pahala yang baik bagi orang yang beramal shalih.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 190-194

Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat
tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 190-194“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan Siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. Ali ‘Imraan: 190). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka. (QS. Ali ‘Imraan: 191). Ya Rabb kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun. (QS. Ali ‘Imraan: 192). Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): ‘Berimanlah kamu kepada Rabb-mu.’; maka kamipun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosakami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. (QS. Ali ‘Imraan: 193). Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS. Ali ‘Imraan: 194)
Makna ayat ini, bahwa Allah berfirman, inna fii khalqis samaawaati wal ardli (“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi.”) Artinya, yaitu pada ketinggian dan keluasan langit dan juga pada kerendahan bumi serta kepadatannya. Dan juga tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terdapat pada ciptaan-Nya yang dapat dijangkau oleh indera manusia pada keduanya (langit dan bumi), baik yang berupa bintang-bintang, komet, daratan dan lautan, pegunungan, dan pepohonan, tumbuh-tumbuhan, tanaman, buah-buahan, binatang, barang tambang, serta berbagai macam warna dan aneka ragam makanan dan bebauan,
Wakh-tilafil laili wan naHaari (“Dan silih bergantinya malam dan siang.”) Yakni, silih ber-gantinya, susul menyusulnya, panjang dan pendeknya. Terkadang ada malam yang lebih panjang dan siang yang pendek. Lalu masing-masing menjadi seimbang. Setelah itu, salah satunya mengambil masa dari yang lainnya sehingga yang terjadi pendek menjadi lebih panjang, dan yang diambil menjadi pendek yang sebelumnya panjang. Semuanya itu merupakan ketetapan Allah yang Mahaperkasa lagi Maha-mengetahui.
Oleh karena itu Allah berfirman: la aayaati li-ulil albaab (“Terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal [Uulul Albaab].”) Yaitu mereka yang mempunyai akal yang sempurna lagi bersih, yang mengetahui hakikat banyak hal secara jelas dan nyata. Mereka bukan orang-orang tuli dan bisu yang tidak berakal.
Allah berfirman tentang mereka yang artinya, “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. Dan sebahagian besar dan mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 105-106)
Kemudian Allah menyifatkan tentang Uulul Albaab, firman-Nya: alladziina yadzkuruunallaaHa qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubiHim (“[Yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.”)
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari ‘Imran bin Hushain, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak mampu, maka lakukanlah sambil duduk, jika kamu tidak mampu, maka lakukanlah sambil berbaring.”
Maksudnya, mereka tidak putus-putus berdzikir dalam semua keadaan, baik dengan hati maupun dengan lisan mereka. Wa yatafakkaruuna fii khalqis samaawaati wal ardli (“Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”) Maksudnya, mereka memahami apa yang terdapat pada keduanya (langit dan bumi) dari kandungan hikmah yang menunjukkan keagungan “al-Khaliq” (Allah), ke-kuasaan-Nya, keluasan ilmu-Nya, hikmah-Nya, pilihan-Nya, juga rahmat-Nya.
Syaikh Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Sesungguhnya aku keluar dari rumahku, lalu setiap sesuatu yang aku lihat, merupakan nikmat Allah dan ada pelajaran bagi diriku.” Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dun-ya dalam “Kitab at-Tawakkul wal I’tibar.”
Al-Hasan al-Bashri berkata: “Berfikir sejenak lebih baik dari bangun shalat malam.”
Al-Fudhail mengatakan bahwa al-Hasan berkata, “Berfikir adalah cermin yang menunjukkan kebaikan dan kejelekan-kejelekanmu.”
Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Berfikir (tentang kekuasaan Allah,”) adalah cahaya yang masuk ke dalam hatimu.”
Nabi ‘Isa as. berkata: “Berbahagialah bagi orang yang lisannya selalu berdzikir, diamnya selalu berfikir (tentang kekuasaan Allah), dan pandangannya mempunyai ‘ibrah (pelajaran).”
Luqman al-Hakim berkata: “Sesungguhnya lama menyendiri akan mengilhamkan untuk berfikir dan lama berfikir (tentang kekuasaan Allah,) adalah jalan-jalan menuju pintu Surga.”
Sungguh Allah mencela orang yang tidak mengambil pelajaran tentang makhluk-makhluk-Nya yang menunjukkan kepada dzat-Nya, sifat-Nya, syari’at-Nya, kekuasaan-Nya dan tanda-tanda (kekuasan)-Nya, “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 105-106)
Dan di sisi lain Allah memuji hamba-hamba-Nya yang beriman: alladziina yadzkuruunallaaHa qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubiHim Wa yatafakkaruuna fii khalqis samaawaati wal ardli (“[yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”) Yang mana mereka berkata, rabbanaa maa khalaqta Haadzaa baathilan (“Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.”) Artinya, Engkau tidak menciptakan semuanya ini dengan sia-sia, tetapi dengan penuh kebenaran, agar Engkau memberikan balasan kepada orang-orang yang beramal buruk terhadap apa-apa yang telah mereka kerjakan dan juga memberikan balasan orang-orang yang beramal baik dengan balasan yang lebih baik (Surga). Kemudian mereka menyucikan Allah dari perbuatan sia-sia dan penciptaan yang bathil seraya berkata, subhaanaka (“Mahasuci Engkau.”) Yakni dari menciptakan sesuatu yang sia-sia. Wa qinaa ‘adzaaban naar (“Maka peliharalah kami dari siksa Neraka.”) Maksudnya, wahai Rabb yang menciptakan makhluk ini dengan sungguh-sungguh dan adil. Wahai Dzat yang jauh dari kekurangan, aib dan kesia-siaan, peliharalah kami dari adzab Neraka dengan daya dan kekuatan-Mu. Dan berikanlah taufik kepada kami dalam menjalankan amal shalih yang dapat mengantarkan kami ke Surga serta menyelamatkan kami dari adzab-Mu yang sangat pedih.
Setelah itu mereka berkata, rabbanaa innaka man tud-khilin naara faqad akh-zaitaHu (“Ya Rabb kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia.”) Yaitu Engkau menghinakan dan memperlihatkan kerendahannya kepada seluruh makhluk. Wa maa lidh-dhaalimiina min anshaar (“Dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun.”) Yaitu pada hari Kiamat kelak, mereka tidak akan mendapatkan perlindungan dari-Mu dan mereka tidak dapat menghindar dari apa yang Engkau kehendaki terhadap mereka.
Rabbanaa innanaa sami’naa munaadiyay yunaadii lil iimaani (“Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar [seruan] yang menyeru kepada iman.”) Yakni, penyeru yang menyeru kepada keimanan. Yaitu, Rasulullah saw: an aaminuu birabbikum fa aamannaa (“Berimanlah kamu kepada Rabb-mu, maka kami pun beriman.”) Penyeru itu berseru, “Berimanlah kepada Rabb kalian.” Maka kami pun beriman, lalu kami menyambut dan mengikutinya, yaitu dengan keimanan dan kepengikutan kita terhadap Nabi-Mu.
Rabbanaa faghfir lanaa dzunuubanaa (“Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami.”) Artinya, tutup dan hapuskanlah dosa-dosa kami itu. Wa kaffir ‘annaa sayyi-aatinaa (“Dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami,”) antara kami dengan Engkau. Wa tawaffanaa ma-‘al ab-raar (“Dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.”) Maksudnya, pertemukanlah kami dengan orang-orang yang shalih. Rabbanaa wa aatinaa maa wa ‘attanaa ‘alaa rusulika (“Ya Rabb kami, berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul Engkau.”) Ada yang mengatakan, artinya, atas iman dengan Rasul-Rasul-Mu. Dan ada yang mengatakan maksudnya melalui lisan para Rasul-Mu. Dan inilah yang lebih mendekati kebenaran. Wallahu a’lam.
Dan firman-Nya, wa laa tukhzinaa yaumal qiyaamati (“Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat.”) Yaitu, di hadapan pemuka para makhluk. Innaka laa tukhliful mii-‘aad (“Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”) Maksud-nya, keharusan akan janji yang telah disampaikan oleh Rasul-Rasul-Mu, yaitu bangkitnya umat manusia pada hari Kiamat kelak di hadapan-Mu. Dalam sebuah hadits telah ditegaskan bahwa Rasulullah membaca sepuluh ayat terakhir dari Surat Ali-`Imran ini jika beliau bangun malam untuk mengerjakan shalat tahajud.
Imam al-Bukhari pernah meriwayatkan dari Kuraib, bahwa Ibnu ‘Abbas memberitahukan kepadanya, ia pernah menginap di rumah Maimunah isteri Nabi, sekaligus bibinya (Ibnu ‘Abbas) sendiri, ia berkata, lalu aku membaringkan diri di bagian pinggir tempat tidur, sedangkan Rasulullah saw. dan keluarganya membaringkan diri di bagian tengahnya. Maka beliau pun tidur. Dan pada pertengahan malam, tak lama sebelum atau sesudah pertengahan malam, Rasulullah bangun dari tidurnya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan tangan beliau. Kemudian beliau membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Ali-‘Imran. Selanjutnya beliau menuju ke tempat air yang tergantung didinding dan beliau berwudhu’ dan menyempurnakannya. Setelah itu beliau mengerjakan shalat.
Lebih lanjut Ibnu ‘Abbas berkata, kemudian aku bangun dan melakukan hal yang sama seperti yang dikerjakan beliau, lalu aku berjalan dan berdiri di sisi beliau. Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku dan memegang telingaku. Seusai itu beliau mengerjakan shalat dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, kemudian mengerjakan shalat witir. Lalu beliau berbaring hingga datang muadzin, maka beliau bangun dan mengerjakan shalat dua rakaat ringan (shalat sunnah Subuh), selanjutnya
beliau pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat Subuh.
Hal senada juga diriwayatkan oleh perawi lain yang diriwayatkan oleh iman-iman ahli hadits lain melalui beberapa sumber dari Malik. Juga diriwayatkan Imam Muslim, Abu Dawud (melalui jalan yang lain). Serta diriwayatkan Ibnu Mardawaih dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah keluar rumah pada suatu malam, dan ketika malam berlalu, beliau menatap ke langit dan membaca ayat ini: inna fii khalqis samaawaati wal ardli wakh-tilaafil laili wan naHaari la aayaatil li ulil albaab (“Sungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”) Sampai terakhir dari surah Ali ‘Imraan.
Setelah itu beliau berdo’a: “Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam pandanganku, cahaya pada sebelah kananku, cahaya pada sebelah kiriku, cahaya pada bagian depanku, cahaya pada belakangku, cahaya pada bagian atasku, dan cahaya pada bagian bawahku, serta besarkanlah cahaya bagiku pada hari Kiamat.”
Do’a ini telah ditegaskan dalam beberapa jalan hadits shahih yang di-riwayatkan dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas ra.
Dalam tafsirnya, Abdu bin Humaid meriwayatkan dari Ja’far bin Aun al-Kalby, dari Abu Hubab ‘Atha’, ia berkata, bersama ‘Abdullah bin ‘Umar dan ‘Ubaid bin ‘Umair, aku masuk menemui Ummul Mukminin, ‘Aisyah dalam biliknya. Kemudian kami mengucapkan salam kepadanya. Maka ‘Aisyah bertanya: “Siapa mereka?” Kami pun menjawab: “Ini ‘Abdullah bin ‘Umar dan `Ubaid bin `Umair.” Lalu ‘Aisyah berkata: “Wahai ‘Ubaid bin ‘Umair, apa yang menghalangimu mengunjungi kami?” Ubaid menjawab: “Karena orang terdahulu pernah berkata: “Berkunjunglah jarang-jarang, niscaya engkau akan bertambah dekat.” Setelah itu ‘Aisyah berkata: “Sesungguhnya kami menyukai kunjungan dan kedatanganmu.” Lalu ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: “Biarkanlah kita mengalihkan pembicaraan lain dan beritahukanlah kepada kami mengenai sesuatu yang mengagumkanmu dari apa yang pernah engkau saksikan dari Rasulullah.” Maka ia (‘Aisyah) pun menangis dan kemudian berkata: “Semua perkara yang dilakukannya sungguh mengagumkan. Pada malam giliranku, beliau pernah mendatangiku, lalu beliau masuk dan tidur bersamaku di tempat tidurku sehingga kulitnya menyentuh kulitku, kemudian beliau bersabda: “Ya Aisyah, izinkan aku beribadah kepada Rabb-ku,” Maka ‘Aisyah pun berkata: “Sesungguhnya aku senang sekali berada di sisimu, tetapi aku pun menyukai keinginanmu itu (beribadah kepada Allah).”
Lebih lanjut ‘Aisyah menceritakan, setelah itu Rasulullah berjalan menuju ke tempat air yang terdapat di dalam rumah dan berwudhu dengan tidak memboroskan air. Seusai berwudhu’ beliau membaca al-Qur’an dan kemudian menangis hingga aku melihat bahwa air matanya membasahi janggutnya. Selanjutnya beliau duduk, lalu memanjatkan pujian kepada Allah. Setelah itu beliau menangis hingga aku melihat air matanya jatuh sampai ditenggorokannya. Kemudian beliau membaringkan diri pada lambung sebelah kanan dan meletakkan tangannya di bawah pipinya, lalu beliau menangis hingga aku melihat air matanya jatuh ke lantai.
Setelah itu Bilal masuk menemuinya, lalu ia mengumandangkan adzan shalat Subuh, dan kemudian ia mengatakan: “Shalat, ya Rasulullah.” Ketika melihatnya sedang menangis, Bilal mengatakan: “Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis sedang Allah telah memberikan ampunan kepadamu atas dosa yang telah engkau kerjakan maupun yang belum engkau kerjakan.” Maka beliau bersabda: “Wahai Bilal, tidakkah aku boleh menjadi hamba yang bersyukur?” Dan bagaimana aku tidak menangis sedang pada malam ini telah turun ayat, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bum, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka.” Selanjutnya beliau bersabda: “Celaka bagi orang yang membaca ayat-ayat ini lalu ia tidak memikirkan apa yang ada di dalamnya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya.
Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 187-189

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 187-189

Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat
tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 187-189“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakangpunggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (QS. Ali ‘Imraan: 187). Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan. Janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa dan bagi mereka siksa yang pedih. (QS. Ali ‘Imraan: 188). Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi: dan Allah Maha- kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali ‘Imraan: 189)
Yang demikian itu merupakan teguran sekaligus ancaman Allah terhadap Ahlul Kitab, di mana Allah telah mengambil perjanjian terhadap mereka melalui lisan para Nabi, yaitu janji agar mereka beriman kepada Muhammad saw. dan agar menjelaskannya kepada umat manusia. Sehingga keadaaan mereka siap menerima perintahnya, supaya apabila Allah mengutus Muhammad mereka pun mengikutinya. Namun mereka menyembunyikan hal itu dan mengganti apa yang pernah mereka janjikan berupa kebaikan di dunia dan di akhirat dengan sesuatu yang sangat sedikit, serta hal duniawi yang sangat murah. Maka seburuk-buruk sifat adalah sifat mereka, dan seburuk-buruk bai’at adalah bai’at mereka.
Dan dalam hal itu terdapat peringatan bagi para ulama agar jangan mengikuti jejak mereka, sehingga tidak menimpa apa yang telah menimpa mereka. Para ulama hendaknya mengajarkan apa yang ada pada mereka dari ilmu yang bermanfaat yang dapat menunjukkan kepada amal shalih dan tidak menyembunyikan ilmu barang sedikitpun.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari beberapa sumber yang berbeda, dari Nabi saw. Beliau pernah bersabda: “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka pada hari Kiamat kelak ia akan dimasukkan tali kekang kedalam mulutnya dengan kekang dari api.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dengan sanad hasan)
Firman-Nya, laa tahsabannal ladziina yaf-rahuuna bimaa ataw watuhibbuuna ay yuhmaduu bimaa lam yaf’aluu (“Janganlah sekali-sekali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.”) Yakni orang-orang yang suka berbuat riya’, yang ingin dinilai lebih dengan apa-apa yang mereka tidak perbuat.
Sebagaimana yang telah ditegaskan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengaku-ngaku dengan pengakuan dusta supaya memperoleh penilaian lebih yang tidak ada pada dininya, maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kekurangan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Masih dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, beliau bersabda: “Orang yang ingin dinilai lebih dengan apa yang tidak ada pada dirinya, adalah seperti orang yang memakai dua pakaian palsu.”
Imam Ahmad meriwayatkan, Hajjaj telah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, Ibnu Abi Mulaikah memberitahukan kepadaku bahwa Humaid bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf pernah memberitahukan kepadanya, bahwa Marwan pernah mengatakan kepada pengawalnya, “Wahai Rafi’, pergilah kepada Ibnu ‘Abbas, dan katakan, jika setiap orang dari kami merasa senang dengan apa yang dilakukannya dan suka mendapat pujian atas sesuatu perbuatan yang tidak dikerjakannya, kemudian kami mendapat siksaan, maka niscaya semua orang akan kena siksa.” Maka Ibnu ‘Abbas menyahut, “Apa yang kalian maksudkan dengan ini? Sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dengan Ahlul Kitab.”
Setelah itu Ibnu ‘Abbas membacakan ayat ini [yang artinya], “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya. Lalu mereka melemparkan janji itu kebelakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amat buruk tukaran yang mereka terima. Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.”
Ibnu ‘Abbas berkata, Nabi saw. pernah bertanya kepada mereka mengenai sesuatu, lalu mereka menyembunyikannya dari beliau, dan memberi-tahukan kepada beliau sesuatu hal yang lain. Setelah itu mereka pun pergi dan mengklaim bahwa mereka telah memberitahukan apa yang ditanyakan Nabi saw. Selanjutnya mereka meminta pujian kepada beliau atas apa yang dilakukannya itu, serta mereka merasa gembira atas apa yang mereka sembunyikan kepada Nabi.
Demikian itulah hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam kitab tafsirnya, Imam Muslim, Imam at-Tirmidzi, an-Nasa’i dalam tafsirnya, Ibnu Abi Hakim, Ibnu Khuzaimah, al-Hakim dan Ibnu Mardawaih, yang semuanya berasal dari hadits ‘Abdul Malik bin Juraij.
Hal yang sama juga diriwayatkan Imam al-Bukhari dari hadits Ibnu Juraij dari Ibnu Abi Mulaikah dari ‘Alqamah bin Waqqash, bahwa Marwan pernah mengatakan kepada penjaganya, “Ya Rafi’, pergilah kepada Ibnu ‘Abbas. Lalu ia menyebutkan hadits di atas.”
Imam al-Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa pada masa Rasulullah ada beberapa orang munafik, yang jika Rasulullah berangkat perang, mereka enggan menyertai beliau dan merasa gembira dengan ketidak ikutsertaan mereka bersama beliau. Dan ketika Rasulullah datang dari perang, mereka mencari-cari alasan untuk disampaikan kepada beliau, mereka pun bersumpah, serta mereka suka mendapatkan pujian atas suatu hal yang tidak mereka lakukan, maka turunlah ayat ini: laa tahsabannal ladziina yaf-rahuuna bimaa ataw watuhibbuuna ay yuhmaduu bimaa lam yaf’aluu (“Janganlah sekali-sekali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.”)
Hadits yang sama juga diriwayatkan Imam Muslim dari Ibnu AbiMaryam.
Dan firman-Nya: falaa tahsabannaHum bimafaazatim minal ‘adzaab (“Janganlah kamu me-nyangka bahwa mereka terlepas dari siksa.”) Artinya, janganlah kalian mengira bahwa mereka akan selamat dari siksa, bahkan mereka pasti mendapatkan siksa.
Oleh karena itu Allah berfirman, wa laHum ‘adzaabun aliim (“Dan bagi mereka siksa yang pedih.”)
Setelah itu Allah berfirman: wa lillaaHi mulkus samaawaati wal ardli wallaaHu ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”) Artinya, Allah adalah pemilik segala sesuatu dan berkuasa untuk berbuat segala sesuatu sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya. Karena itu, janganlah kalian menentang-Nya dan hindarilah kemurkaan dan laknat-Nya. Karena Allah adalah Rabb yang Mahaagung yang tidak adasesuatu pun yang lebih agung dari-Nya dan Mahakuasa yang tiada sesuatu pun yang lebih berkuasa dari diri-Nya.
Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 185-186

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 185-186

Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat
tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 185-186“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(QS. Ali ‘Imraan: 185). Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan diri-mu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali ‘Imraan: 186)
Allah memberitahukan kepada seluruh makhluk-Nya bahwa setiap jiwa itu akan merasakan kematian. Sebagaimana firman-Nya, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajab Rabb-Mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahmaan: 26-27) Hanya Allah yang akan terus hidup, yang tiada akan pernah mati. Seluruh umat manusia dan jin akan mengalami kematian, demikian juga dengan para Malaikat termasuk Malaikat yang memikul `Arsy. Yang tetap hidup kekal abadi hanyalah Rabb yang Mahaesa dan Maha-
perkasa. Allah-lah yang Akhir, sebagaimana pula Allah-lah yang Awal. Dalam ayat ini terdapat ta’ziyah bagi seluruh umat manusia, bahwasanya tidak akan ada seorang pun yang akan tetap berada di muka bumi sehingga dia mati. Jika waktu yang telah ditetapkannya berakhir dan keberadaan nuthfah yang telah ditakdirkan oleh-Nya dari sulbi Adam telah habis, serta semua makhluk-Nya ini telah berakhir, maka Allah langsung menjadikan Kiamat. Dan selanjutnya Allah akan memberikan balasan kepada semua makhluk-Nya sesuai dengan
amalnya yang mulia maupun hina, besar maupun yang kecil, banyak maupun sedikit, sehingga tidak ada seorang pun yang dizhaliminya meski hanya sebesar biji sawi.
Oleh karena itu Allah berfirman, wa inna maa tuwaffaunaa ujuurakum yaumal qiyaamati (“Dan sesungguhnya pada hari Kiamat saja disempurnakan pahalamu.”) Ibnu Abi Hatim mengatakan dari ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Ketika Rasulullah meninggal dunia, maka ta’ziyah pun berdatangan, mereka didatangi oleh seseorang yang mereka dengar suaranya tetapi tidak terlihat sosoknya, yang berkata, “Salam sejahtera untuk kalian semua, wahai ahlul bait, semoga rahmat dan berkah Allah senantiasa terlimpah kepada kalian.” “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat saja disempurnakan pahalamu. ” “Sesungguhnya dalam diri Allah ada bela sungkawa dari setiap musibah, pengganti dari setiap yang binasa, dan penyusul dari suatu yang luput. Maka yakinlah serta berharaplah kepada-Nya, karena musibah itu merupakan pahala yang tertangguhkan, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.”
Ja’far bin Muhammad berkata, ayahku memberitahukan kepadaku bahwa Ali bin Abi Thalib
berkata, “Apakah kalian tahu, siapakah orang itu? Ia itu adalah Khidir as.”
Dan firman Allah: faman zuhziha ‘anin naari wa udkhilal jannata faqad faaz (“Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung.”) Artinya, barangsiapa dihindarkan dari api Neraka dan diselamatkan darinya serta dimasukkan ke dalam Surga, maka ia benar-benar beruntung.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tempat untuk sebuah cemeti di Surga lebih baik daripada dunia dan seisinya. Bacalah oleh kalian, jika kalian suka, ‘Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia beruntung.’”
Hadits di atas diriwayatkan juga dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim tidak melalui jalan ini, dan tanpa adanya tambahan tersebut.
Dan firman-Nya: wa mal hayaatud dun-yaa illaa mataa-‘ul ghuruur (“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”) Hal itu dimaksudkan untuk memperkecil nilai dunia sekaligus menghinakannya, dan bahwa dunia juga bersifat sangat fana dan sebentar serta akan musnah binasa. Sebagaimana firman-Nya: bal tu’tsiruunal hayaatad dun-yaa, wal aakhiratu khairuw wa abqaa (“Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia. Sedangkan kehidupan akhirat itu adalah lebih baik dan lebih kekal.”)
Mengenai firman-Nya: wa mal hayaatud dun-yaa illaa mataa-‘ul ghuruur (“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”) Qatadah berkata, yaitu kesenangan yang pasti ditinggalkan. Demi Allah, yang tiada ilah selain Allah, dunia itu nyaris akan lenyap dari tangan pemiliknya. Jika kalian mampu ,maka ambillah dari kesenangan itu untuk ketaatan, sesungguhnya tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.
Dan firman-Nya: latub-lawunna fii amwaalikum wa anfusikum (“Kamu sungguh-sungguh akan diuji tentang hartamu dan dirimu,”) seperti firman-Nya yang artinya: “Sungguh kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Dengan pengertian, merupakan suatu keharusan bagi seorang mukmin akan diuji tentang harta kekayaan, dirinya, anak-anak, serta keluarganya. Dan ia akan diuji menurut kadar pemahaman agamanya, jika ia kuat dalam agamanya, maka akan diberikan ujian yang lebih berat.
Firman-Nya, wa latasma-‘unnal ladziina uutul kitaaba min qablikum wa minal ladziina asy-rakuu adzan katsiiran (“Dan [juga] kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelummu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.”) Allah berfirman ditujukan kepada kalangan orang beriman ketika tiba di Madinah, yaitu sebelum terjadinya perang Badar, sebagai hiburan buat mereka atas gangguan dan siksaan dari Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik. Selain itu Allah juga memerintahkan kepada mereka bersabar dan memberikan maaf sehingga Allah menghilangkan kedukacitaan mereka. Wa in tashbiruu wa tattaquu fa inna dzaalika min ‘azmil umuur (“Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”)
Dalam penafsiran ayat tersebut, Imam al-Bukhari menyebutkan dari az-Zuhri, ‘Urwah bin az-Zubair memberitahukan kepadaku, Usamah bin Zaid menceritakan kepadanya, bahwa Rasulullah saw. menaiki seekor keledai yang di atasnya terdapat pelana terbuat dari beludru, sedang Usamah bin Zaid dibonceng di belakang beliau dengan tujuan menjenguk Sa’ad bin ‘Ubadah yang berada di Bani al-Harits bin al-Khazraj, yaitu sebelum peristiwa Badar, sehingga beliau melewati suatu majelis yang di dalamnya terdapat ‘Abdullah bin Ubay bin Salul. Dan itu terjadi sebelum ‘Abdullah bin Ubay bin Salul masuk Islam. Ternyata dalam majelis tersebut bercampur antara kaum muslimin, orang-orang musyrik penyembah berhala, Ahlul Kitab dan Yahudi. Dan dalam majelis tersebut terdapat ‘Abdullah bin Rawahah. Ketika majelis tersebut dipenuhi oleh debu yang diterbangkan hewan (keledai Rasulullah), maka Abdullah bin Ubay menutupi hidungnya dengan selendangnya seraya ber-kata: “Jangan menyebarkan debu pada kami.”
Kemudian Rasulullah mengucapkan salam, lalu berhenti dan turun dari keledainya. Setelah itu beliau menyeru mereka kepada menyembah Allah , serta membacakan al-Qur’an kepada mereka, kemudian ‘Abdullahbin Ubay bin Salul berkata, “Wahai saudara, tidak ada sesuatu yang baik dariapa yang kau katakan itu. Jika apa yang kau katakan itu memang benar, maka
janganlah engkau mengganggu kami dengan kata-kata itu di majelis kami. Lanjutkan saja perjalananmu itu dan ceritakan saja kepada orang yang datang kepadamu.”
Kemudian ‘Abdullah bin Rawahah berkata, “Kami menerimanya, ya Rasulallah, perdengarkanlah kepada kami hal itu dalam majelis-majelis kami, karena kami menyukai perkataanmu tersebut.” Maka antara kaum muslimin, orang-orang munafik, dan orang-orang Yahudi saling menghardik hingga hampir saja terjadi bentrok fisik. Sedangkan Nabi saw. masih terus berusaha melerai mereka, sehingga mereka pun terdiam. Kemudian beliau menaiki kendaraannya dan melanjutkan perjalanan hingga masuk ke rumah Sa’ad bin Ubadah. Nabi pun berkata kepadanya, “Wahai Sa’ad, apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan Abu Hubab,” yang dimaksudkannya adalah Abdullah bin Ubay. Kemudian beliau mengutarakan ini dan itu hingga Sa’ad pun berkata, “Ya Rasulullah, maafkan dan biarkan saja mereka. Demi Rabb yang menurunkan kepadamu al-Qur’an, Allah telah datang kepadamu dengan membawa kebenaran yang diturunkan kepadamu. Penduduk perkampungan ini telah bersepakat untuk mengangkatnya sebagai pemimpin.” Mengabaikan hal itu dengan hak yang Allah berikan kemuliaan kepadamu dengan hal itu, maka begitulah ia berbuat sebagaimana yang engkau lihat, lalu Rasul pun memaafkannya.
Adalah Rasulullah dan para Sahabatnya memaafkan orang-orang musyrik dan Ahlul Kitab, sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada mereka, dan diperintahkan juga untuk bersabar atas gangguan mereka. Allah berfirman, wa latasma-‘unnal ladziina uutul kitaaba min qablikum wa minal ladziina asy-rakuu adzan katsiiran (“Dan [juga] kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelummu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.”)
Allah juga berfirman yang artinya, “Sebagian besar Ahlul Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikankamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang [timbul] dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 109)
Nabi menafsirkan pemberian maaf yang diperintahkan Allah kepadanya itu adalah sampai Allah mengizinkan beliau mengambil tindakan terhadap mereka, dan ketika Rasulullah berjihad dalam perang Badar, lalu melalui diri beliau Allah membinasakan banyak dari tokoh-tokoh orang kafir Quraisy, maka ‘Abdullah bin Ubay bin Salul dan orang-orang yang bersamanya serta para penyembah berhala mengatakan, “Ini merupakan suatu kemenangan yang beralih.” Kemudian mereka berjanji setia (bai’at) kepada Rasulullah dan akhirnya mereka pun memeluk Islam. Dengan demikian, setiap orang yang menegakkan kebenaran atau amar ma’ruf, atau nahi munkar, pasti akan mendapatkan gangguan yang menyakitkan, yang tiada obatnya kecuali bersabar karena Allah, serta dengan memohon pertolongan kepada-Nya. Dan hanya kepada-Nya tempat kembali.

Kategori

Kategori